Jalanan yang masih basah akan tetesan hujan yang tak kunjung
kering. Hembusan angin sepoi sepoi membuatku terpaku dalam suasana hening. Duduklah
aku di bangku taman dan menuliskan sebuah puisi
Kuberlari
Dengan lantunan
Lirih kurasa
Tak luput
Dari
Urutan-urutan
Syair puisiku
Tentangmu
Tentangku
Mau pun dia
Kuingin
Selalu bersamannya
Namun,
Tak ku berniat
milikinya
Kuingin
Dia rasakan ini
Luputkan semua
Rasa benci
Rasa saling memilikki
Walau resah
Menghantui
Tak lelah kuberharap
Walau tiada akhir
Berpuisi dalam hati
Tak memberi harapan
Untukmu merinduku...
Kuingat beberapa kisah masa lalu, yang hampir saja kulupa
itu.
“kamu sendirian?” tanya Abel
“iya..” jawabku dengan cuek.
Abel, dia adalah masa lalu
terindahku. Dia sahabatku, bahkan dia pernah menjadi pacarku. Dia yang selalu
menopangku saat aku jatuh, tak pernah ada air mata yang jatuh saat bersamanya,
karna dia selalu menghapus air mataku sebelum air mata itu jatuh.
“aku sempat kerumahmu, tapi kata
ayahmu kamu pergi” kata Abel
“oh yaa.. lalu siapa yang
memberitahumu bila aku di sini?” tanyaku
“Dulu kita sering kesini, saat
kamu badmood, kangen seseorang, yaaaa ada lah pokoknya” jawab Abel
“Kamu masih ingat semua itu? Ku
kira kamu mudah melupakan semua itu?” tanggapku
Memang dulu kita sering ke taman
ini untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran, saat stress misalnya.
“Hahaha, banyak orang biang kalau
aku player. Tapi hubungan kita saat itu membuatku canggung.” Kata Abel
“canggung?” tanyaku tegas
“iya canggung, canggung untuk
nembak cewek yang sekedar kusukai, aku sudah terlalu nyaman berhubungan
denganmu, walaupun semua ini masih cinta monyet” jawab Abel lembut
Aku tidak menyangka Abel berkata
itu. Perasaanku menjadi aneh, deg-degan.
“oh” aku pun berdiri dan pergi
“heeei mau kemana? Tunggu aku!!” Abel
mengejar
Kita pun jalan..
Tak ada sepatah kata pun yang
kita ucapkan. Dan tak kusangka saat jalan berdua, ada mantan pacar Abel yaitu
sera.
“Abel? Rena?” sera heran
“eh hai, sama siapa ser?”sapa Abel
“nggak penting sama siapa aku
kesini. Oh ternyata kamu lebih pilih Rena daripada aku? Apasih lebihnya dia?”
tanya sera sambil mendorongku
“biasa aja dong” balasku
“stop stop. Kalian kenapa sih?
Kamu juga ser, udah deh nggak usah ungkit-ungkit. Udah Ren kita pergi aja”
respon Abel sambil menarik tanganku
Aku nggak nyangka, ternyata Abel
udah pernah pacaran sama sahabatku sendiri. tapi kenapa harus putus? Dan kenapa
Abel memilih untuk kembali denganku? Apa aku hanya untuk pelariannya? Ah
udahlah itu semua nggak penting. Udah cukup. Cukup jadi pelarian si Abel. dan cukup sakit di antara hubungan
mereka.